Home / Kuliner / Mau Nyobain Sate Kere? Sambangi Pasar Kangen Jogja

Mau Nyobain Sate Kere? Sambangi Pasar Kangen Jogja

pedagang sate kereYOGYAKARTA, – Melestarikan tradisi agar jangan sampai dilupakan atau hilang ditelan zaman, inilah yang dilakukan oleh Ibu Bagyo penjual makanan tradisional dan Dian, penjual sate kere di stand Pasar Kangen Jogja.

Memasuki halaman Taman Budaya Yogyakarta tempat digelarnya Pasar Kangen Jogja, terlihat kepulan asap dengan aroma khas sate kere asli Yogyakarta yang berbahan gajih atau lemak sapi. Tampak pula para pengunjung berjajar mengantre membeli sate yang saat ini semakin jarang dijumpai di Yogyakarta.

Beberapa pengunjung yang lebih dulu datang terlihat lahap menyantap sate kere yang disajikan dengan pincuk daun pisang. Padahal dahulu, di setiap ada pertunjukan wayang kulit atau pun Jathilan di desa-desa dengan mudah ditemui penjual sate kere.

Saat ini, salah satu tempat untuk mendapatkan sate kere ada di emperan Pasar Beringharjo kota Yogyakarta. “Sekarang jarang mas. Padahal dulu zaman kecil banyak yang jual,” ujar Dian, penjual sate kere di Pasar Kangen Jogja, Kamis (21/7/2016).


Menurut Dian, ada dua jenis sate kere yakni khas Yogyakarta dan Solo. Sate kere di Solo berbahan tempe gembus, sedangkan sate kere khas Yogyakarta berbahan gajih atau lemak sapi. “Di stand ini ada dua, khas Solo dan Yogya. Pembeli bisa pesan dengan lontong juga ,” tegasnya.

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengaku tidak berjualan di rumah. Ia bersama temannya sengaja berjualan sate kere di Pasar Kangen untuk memanjakan pengunjung yang ingin bernostalgia dengan sate kere.

Selain itu juga ingin agar kawula muda mengetahui jika zaman dulu ada varian sate yang melegenda yakni sate kere. “Satu porsinya Rp 10.000, tetapi kalau campur (sate kere khas Yogya dan Solo) Rp 15.000,” ucapnya.

Warga Banguntapan Bantul ini, mengaku mulai dari hari pertama di Pasar Kangen Jogja sampai dengan hari kedua, sate kere diminati pengunjung. Kebanyakan mereka memesan sate kere campur.

Sementara itu, Ibu Bagyo menyampaikan Pasar Kangen pertama ia selalu ikut membuka stand kuliner. Di standnya ia menjajakan makanan khas tradisional zaman dulu, antara lain legondo, gatot, cenil, tiwul, klepon, lupis, gethuk, jenang grendul, jenang sumsum, jenang mutiara dan hawuk-hawuk.

“Semua dimasak sendiri. Tanpa pengawet ataupun pemanis buatan, semua alami seperti gula jawa dan gula aren,” urainya.

Ia menyampaikan, harga untuk dapat menikmati makanan tradisional di standnya cukup murah. Penyajiannya pun tidak menggunakan piring melainkan jenang dengan pincuk daun pisang.

WIJAYA KUSUMAStand sate kere di Pasar Kangen Jogja Taman Budaya Yogyakarta.

Seperti zaman dahulu, pengunjung menyantap jenang dengan “suru” (sendok dari daun pisang).

Selama dua hari penyelenggaraan Pasar Kangen Jogja, yang paling diburu pembeli di standnya adalah lopis, cenil, klepon dan jenang.

Ibu Bagyo menuturkan, selain membuka stand di Pasar Kangen Jogja ia juga berjualan di Pasar Kolombo. Baginya berjualan makanan tradisional bukan hanya sebatas mencari uang, namun juga turut melestarikan tradisi sehingga kuliner masa lalu bisa bertahan di era modern saat ini.

“Jangan sampai anak cucu kita tidak mengenal gatot, cenil atau jenang grendul. Kuliner ini harus terus dilestarikan,” pungkasnya.

Lihat juga

Sumber Protein

6 Sumber Protein Nabati Bergizi Pengganti Daging

Sumber protein dari dahulu lebih dikenal berasal dari produk hewani contohnya daging merah, ikan-ikanan, ayam, …