Home / Pendidikan / Tak Ada Siswa yang Bodoh, Cek Lagi Cara Ajarnya!

Tak Ada Siswa yang Bodoh, Cek Lagi Cara Ajarnya!

Sekretaris Jenderal Partai Islam Damai serta Aman (Idaman) Sekjen Ramdansyah berkata, partainya memperoleh Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Hukum serta HAM melewati tutorial mengakuisisi partai lain.

Ia membahas, seusai Menteri Hukum serta HAM Yasonna H Laoly pada 7 Oktober 2016) menyebutkan bahwa Partai Idaman tidak lolos lantaran ada persyaratan yang belum terpenuhi, pihaknya memakai tutorial lain supaya Partai Idaman masih bisa memperoleh SK dari Kemenkumham.

“Ketika tidak lolos, kita punya plan B, yakni meperbuat akuisisi partai lain,” ucap Ramdansyah di sela agenda Rakernas Partai Idaman yang digelar di rumit studio Soneta Record Indonesia, Jalan Tole Iskandar, Depok, Jawa Barat, Minggu (8/1/2017).

Ia berkata, ada delapan partai yang dikaji pihaknya untuk kemudian diakuisisi. Tetapi, Ramdansyah tidak membahas dengan cara rinci partai-partai tersebut.


Adapun berbagai pertimbangan pihaknya dalam mengakuisisi partai lain, di antaranya tentang kesamaan pandangan serta hubungan pertemanan politik.

“Kami seleksi dari partai A, B. C, D, serta sesemakinnya. Kita memilih yang ideologinya sejalan, kemudian punya pertemanan juga dekat dengan kami. Jadi, ada proses seleksi,” kata Ramdansyah.

Pihaknya juga memastikan, partai yang bakal diakuisi telah mempunyai SK dari Kemenkumham sehingga, ketika diakuisisi, pihaknya tinggal mengurus penggantian nama serta komposisi pengurus partai.

Kemudian dalam proses menimbang-nimbang saat itu, lanjut Ramdansyah, akhirnya ada satu partai yang mau bergabung dengan Partai Idaman.

“Satu partai yang memberbagi amanah terhadap kita bahwa ‘ini partai yang kita serahkan sehingga partai idaman’ serta itu telah berbadan hukum, akibat dari (akuisisi) itu,” kata dia.

Tetapi, Ramdansyah lagi-lagi tidak mau menyebut partai yang dimaksudnya itu. Menurut dia, tidak etis apabila bukti diri partai yang diakuisisi disebutkan ke publik. Faktor ini bakal disampaikan pada kemudian hari.

“Ini kan urusan ‘dapur’ (internal) partai,” kata dia.

Ramdansyah membahas, seusai ada kesepakatan antara Partai Idaman serta partai yang diakuisisi tersebut, pihaknya kemudian mengurus penggantian nama partai serta komposisi pengurus partai melewati Kemenkumham.

“Sehingga, tanggal 13 Desember (2016) kemarin kita memperoleh akuisisi serta berbadan hukum (SK) nomor 30 untuk AD/ART Partai Idaman serta (SK) nomor 31 terkait struktur DPP partai idaman,” kata dia.

Maka dari itu, kata Ramdanysah, pihaknya menggelar tasyakuran alias selamatan rakernas pada 7-8 Januari 2017.

Dalam rapat ini juga dibahas tentang langkah Partai Idaman ke depan. Tetapi, sementara ini, lanjut dia, pihaknya bakal fokus untuk lolos proses verifikasi faktual oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) nanti.

Kompas TV Partai Idaman Lolos SeLagu Indonesia Raya berkumandang di Hanoi National University of Education, Vietnam pada Juli 2016. Di sana, Wilson Gomarga (18), pelajar SMA IPEKA, memperoleh medali emas di kompetisi International Biology Olympiad (IBO) ke-27.

Masih pada Juli, Noval Ilham Arfiansyah serta Tangguh Achmad Fairuzzabady juga berhasil memperoleh medali perak serta perunggu Olimpiade Matematika di Singapura. Kedua siswa kelas 6 itu mengalahkan ribuan peserta lain di ajang internasional itu.

Terbukti, telah tidak sedikit pelajar Indonesia yang berprestasi serta berhasil menjuarai olimpiade. Tetapi, tidak bisa dimungkiri tidak sedikit pula siswa yang berprestasi rendah di sini.

Studi International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) di Asia Timur, umpama, menunjukan keterampilan membaca kelas 4 SD di Indonesia berada di peringkat terendah ketika dibandingkan dengan negara tetangga.

Rata-rata skor tes membaca paling atas diraih Hongkong (75,5). Peringkat kedua diduduki oleh Singapura (74). Sementara itu, Thailand berada di posisi ketiga (65.1). Filipina satu peringkat lebih tinggi dari Indonesia (52.6).

Adapun skor tes siswa Indonesia merupakan 51,7. Mereka hanya sanggup menguasai 30 persen materi bacaan.

Selain itu, pelajar Indonesia juga kesusahan menjawab soal-soal penalaran yang membutuhkan pemahaman. Faktor ini disebabkan mereka terbiasa menghapal serta menjawab soal opsi ganda.

Ada apa?

Tak ada faktor tunggal

Tidak sedikit faktor yang bisa mempengaruhi hasil belajar siswa. Tantangannya, sistem pendidikan formal Indonesia cenderung memperperbuat siswa sama rata.

“Padahal, semua anak tidak sama. Setiap anak punya kekhususan tidak sama. Ketika diperperbuat sama, ada yang bisa mengikuti, ada yang tidak,” ungkap Founder & CEO Elite Tutors Indonesia, Sumarsono, saat ditemui di Jakarta, Rabu (7/9/2016).leksi Badan Hukum

Elite Bimbingan belajar privat

Menurut Sumarsono, dapat jadi sistem pengajaran tersebut membikin sejumlah anak tidak terseleksi. “Mempunyai kekhususan tetapi tidak terkesan oleh sistem yang ada,” ucap dia.

Ada beragam kondisi yang membikin pengajaran tidak optimal terserap oleh siswa. Umpama, anak tidak lebih konsentrasi saat guru membahas.

Terkadang, anak-anak terkesan memperhatikan pelajaran tetapi sebetulnya mereka sedang melamun alias bahkan mengerjakan faktor lain. Pelajar juga tidak jarangkali tidak lebih ketertarikan dengan pelajarannya.

Atau, dapat jadi siswa tidak suka dengan metode ajar gurunya. Tidak sedikit guru membimbing dengan metode ceramah jadi siswa merasa bosan.

Bisa juga, fasilitas sekolah tidak lebih menunjang. Minim perpustakaan alias alat ajar, dapat jadi di antaranya.

Kenali Keperluan Siswa

Dari fenomena-fenomena di atas, Sumarsono menganggap setiap anak perlu dukungan untuk dapat memperoleh potensi paling baik.

Menurut Sumarsono, setiap anak punya kekhususan. “Anak biasanya mencari support dari luar dengan ikut bimbingan belajar (bimbel),” kata dia.

Sumarsono meningkatkankan, sebagian siswa ikut program belajar sebab terbukti mempunyai persoalan belajar serta ingin menanggulanginya.

Tetapi, kata Sumarsono, anak yang pintar di sekolah juga dapat saja tetap mengikuti bimbel untuk meningkatkan lagi kepandaian.

“Anak berhasil maupun tidak berhasil sama-sama ingin mengenal performa mereka yang tetap terpendam,” ungkap Sumarsono.

Dari semua fenomena tersebut, Sumarsono pun menggagas sistem tailor-made yang dikembangkan di lembaganya.

“Sistem ini telah tidak sedikit diterapkan sekolah serta lembaga pendidikan di luar negeri, tapi belum familiar di Indonesia,” tutur Sumarsono.

Silabus dalam sistem ini dibangun berdasarkan keperluan serta tujuan anak. Di dalamnya tercakup mata pelajaran serta sasaran kualitas yang ingin dicapai siswa.

“Tujuan anak ikut tambahan pelajaran macam-macam, (semacam) ingin masuk sekolah favorit, ingin masuk perguruan tinggi negeri, alias ingin kuliah di luar negeri,” sebut Sumarsono.

THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi

Selain silabus tersebut, sistem tailor-made juga mendesain pola ajar yang menghibur. Saat murid telah merasa enjoy dengan pendidik, mereka bakal terbuka dengan sendirinya serta lebih mudah menerima pengajaran.

Ibarat tabung keilmuan, kata Sumarsono, keenjoyan ini membikin tabungnya terbuka jadi ilmu mudah masuk.

Terlebih lagi, kata Sumarsono, tantangan yang dihadapi pelajar kini teramat beragam, dari kurikulum hingga kemungkinan persoalan domestik keluarga.

“Di situ kita berperan, tutor menempatkan diri sebagai kawan,” tegas Sumarsono. “Di kami, chemistry antara peserta didik serta tutor sangat dijaga, sebab usia peserta didik kita lebih mendengar kawan daripada orangtua,” imbuh dia.

Satu faktor yang paling tak sama dari lembaganya dibandingkan bimbel pada umumnya, sebut Sumarsono, merupakan sistem privat. Satu siswa ditangani oleh satu tim tutor yang menolong serta mengamati kemajuan serta sasaran belajarnya.

Sebelum silabus disusun, tambah Sumarsono, lembaganya membikin pula mekanisme one stop service. Mekanisme ini memastikan keperluan serta tujuan siswa belajar di lembaga ini. “Prosesnya kurang lebih dua pekan,” sebut dia.

sumber: kompas.com

Lihat juga

9279

Yohannes Surya, dari Fisika Menuju “Superpower” Dunia

Selasa, 11 Oktober 2016. Pagi itu, cuaca di Serpong, Tangerang Selatan, tampak bersahabat. Tidak panas, …