Warga berbelanja untuk memenuhi kebutuhan Ramadan di Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (17/6). Meski harga sejumlah komoditi mengalami kenaikan, pedagang setempat mengaku jumlah permintaan dari warga yang berbelanja tetap mengalami peningkatan antara 50 persen hingga 100 persen untuk memenuhi kebutuhan mereka selama Ramadan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/Rei/pd/15.

Jakarta – Pemerintah menyebutkan, rata-rata harga pangan dengan cara nasional turun dengan kisaran 1,04 persen hingga 3,45 persen sepanjang Minggu kedua Oktober 2016 dibanding bulan sebelumnya. Penurunan harga tersebut tak tergolong harga cabai yang justru melonjak.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berkata, harga berbagai komoditas turun, di antaranya bawang merah, bawang putih, daging sapi, minyak goreng, serta telur ayam.

Ia menyebut, harga bawang merah turun dari Rp 35.500 per kilogram (kg) menjadi Rp 35.120 per kg, bawang putih turun ke harga Rp 36.030 dari sebelumnya Rp 36.420 per kg.

“Daging sapi berada di harga Rp 113.680 per kg dari sebelumnya Rp 113.970 per kg. Harga minyak goreng serta telur ayam juga turun, masing-masing di harga Rp 11.520 per liter serta Rp 22.400 per Kg,” katanya di Jakarta, semacam ditulis Rabu (19/10/2016).

Darmin meningkatkankan, dalam sepekan terbaru, harga cabai keriting merah serta cabai merah besar naik. Harga cabai keriting serta cabai besar nasional melonjak tinggi masing-masing 18,4 persen serta 21,5 persen. Cabai keriting dipasarkan Rp 43.800 per kg, serta cabai besar Rp 42.950 per kg. Ini lebih tinggi dibanding harga acuan Rp.28.500 per kg.

“Pemerintah bakal fokus pada berbagai produk pangan, khususnya beras, gula, daging, jagung, serta cabai. Terlebih sekarang memasuki musim penghujan,” ucap Darmin.

Saat ini rata-rata pasokan beras ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) pada Oktober 2016 turun 13,79 persen dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Stok beras di PIBC per 13 Oktober 2016 setidak sedikit 35.719 ton, tetap di atas stok normal, yakni 30.000 ton. Persediaan ini diperkirakan lumayan untuk memenuhi kebutuhan DKI Jakarta selagi 15 hari ke depan.

“Butuh antisipasi stok CBP (Cadangan Beras Pemerintah) untuk Oktober-Februari 2017 sebab harga cenderung naik. Tidak hanya itu juga wajib ada stok untuk antisipasi bencana,” kata Darmin.

Oleh sebab itu, Darmin menyetujui pemakaian sertaa CBP dengan sistem revolving. Khusus pengadaan CBP untuk wilayah DKI Jakarta, ia meminta Pemda DKI Jakarta bekerja sama dengan Perum Bulog.

Iklan Mesin Fotocopy