Jakarta – Nama Boaz Salossa mungkin telah tidak asing di telinga penggemar sepak bola Indonesia. Ya, sosok yang saat ini sehingga pemimpin di Skuat Garuda seakan mulai bangkit bersama timnas Indonesia. Belakangan ini, aksinya di lapangan mengenakan lambang garuda di dada seakan membuka andalan bagi masyarakat Indonesia.

Saat ini, pemain yang sempat mencicipi klub Timor Leste, Carsae FC itu menjadi pemain paling berpengalaman di dalam skuat timnas. Total pemain berumur 30 tahun tersebut mengoleksi 35 caps serta mencetak 10 gol.

Karier Bochi sendiri bersama timnas telah dimulai pada tahun 2004. Dirinya seakan menjadi bocah ajaib yang lahir di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara yang beruntung punya seorang Boaz.

Betapa tidak, tetap berumur 18 tahun, Boaz langsung menggila pada Piala AFF 2004 yang kala itu digelar di Vietnam. Dirinya sukses mencetak tiga gol untuk Skuat Garuda kala itu.

Seiring berlangsungnya waktu, dari generasi berganti generasi, Bochi ternyata tetap membela Skuat Merah Putih. Beberapa asam-manis sempat dirinya rasakan, mulai dari cedera, hingga patah kaki.

Dia bahkan wajib absen setahun penuh untuk memulihkan patah kakinya itu. Tetapi, perjuangan Boaz untuk pulih sangat keras jadi dapat kembali tampil normal di lapangan sepak bola.

Boaz Solossa menyandang ban kapten Merah Putih pada 2103. Dirinya menggantikan kapten sebelumnya yang dipegang oleh Bambang Pamungkas. Pemain kelahiran Sorong ini disebut-sebut sebagai salah satu kapten yang layak disegani.

Dia seakan dapat mencairkan ruang ganti Skuat Garuda. Karena, dahulu terbukti sempat beredar berita kalau dalam skuat timnas ada kubu-kubuan yang terbentuk.

Mulai Bangkit

Bochi memang melewati beberapa fase bersama timnas Indonesia. Sempat menjadi bagian skuat Timnas Indonesia asuhan Benny Dollo di Piala AFF 2008, Boaz yang sedang berada di level permainan terbaik bersama klubnya tak terangkut dalam skuat Piala AFF 2010.

Pelatih timnas saat itu, Alfred Riedl, menilai sang pemain indisipliner dengan mengulur-ulur waktu bergabung saat masa pelatnas. Alhasil, dia bersama beberapa pemain Papua lain, seperti Ian Louis Kabes didepak.

Uniknya Alfred memanggilnya kembali pada Piala AFF 2014. Sayang Boaz gagal unjuk ketajaman di turnamen elite level Asia Tenggara. Indonesia tersingkir di fase penyisihan.

Bahkan, Boaz tak sama sekali mencetak gol untuk Indonesia di Piala AFF 2014 lalu. Banyak yang menilai, Boaz sudah habis dan tak lagi buas.

Maka itu, banyak memang yang menyangsikan kala Boaz kembali dipanggil pada 2016 ini. Bukan tanpa alasan, selain ingin regenerasi skuat, gol terakhirnya untuk Indonesia diciptakan pada 15 Oktober 2013 silam kala seri lawan Tiongkok.

Kendati demikian, Boaz sukses buktikan anggapan miring tersebut. Dua gol yang diciptakan Boaz untuk timnas ke gawang Malaysia, 6 September 2016 lalu jadi buktinya. Aksinya tersebut sukses membungkam para pengkritik.

Kala melawan Vietnam, Boaz memang tak berhasil cetak gol. Tapi, setidaknya ada enam peluang yang diciptakan oleh pemain Persipura Jayapura tersebut, salah satunya menit ke-25 yang membuat Le Van Thanh mendapat kartu kuning karena harus melanggarnya.

Sekarang, kesuksesan Indonesia di Piala AFF 2016 bisa dibilang ada di tangan Boaz. Kepemimpinan Bochi kepada para pemain muda akan jadi penentu perjalanan Skuat Garuda pada event bergengsi di Asia Tenggara tersebut.

Iklan Mesin Fotocopy