ilustrasi-narkoba-2-140623-andriJakarta РJeratan narkoba tidak pandang bulu serta strata sosial. Mereka yang tidak tahan godaan siap-siap saja masuk dalam perangkapnya.

Semacam yang dialami dua perwira polisi AKBP KPS. Mantan Kapolres di Kepulauan Riau ini diduga memeras bandar narkoba jaringan Freddy Budiman. Uang yang dimintanya terbilang besar, Rp 688 juta.

Temuan itu berdasar hasil penelusuran Tim Pencari Fakta Perpaduan (TPGF) sebagai respons testimoni terpidana mati Freddy Budiman, soal keterlibatan aparat dalam praktik narkoba.

Keterlibatan KPS sendiri saat dirinya menjabat sebagai Kepala Unit suatu Sub Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri.

Berbagai apresiasi dirinya bisa dari Beritaeskrim saat itu, Komjen Budi Waseso alias Buwas, sebab pengungkapan pabrik sabu di LP Narkotika Cipinang. Pabrik tersebut diotaki Freddy Budiman. Dirinya juga membongkar peredaran narkotika CC4.

Kepala Bareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto mengaku sekarang pihaknya tetap menantikan hasil penyelidikan Propam kepada perwira menengah tersebut.

“Proses awalnya di Propam serta kita belum menerima limpahan pidananya,” kata Ari Dono saat dihubungi , Senin 10 Oktober 2016.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar berkata, KPS terancam dipecat dari Polri sebab penyalahgunaan wewenangnya.

“Oknum yang melakukan penyalahgunaan wewenang kerap terjadi. Yang paling penting, institusi telah punya sistem punishment and reward, siapa yang berbuat, dirinya bertanggung jawab. Sehingga ya, semua mekanisme umum yang berlaku pada anggota,” kata Boy di rumit Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

“Risikonya dirinya diberhentikan, diproses hukum, diajukan ke pengadilan,” Boy meningkatkankan.

Ancaman Pecat

Berbagai waktu lalu, seorang perwira pertama kepolisian dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi alias AKP Sunarto terjaring razia di diskotek Mille’s, Mangga Besar, Jakarta Barat. Sunarto berdinas di Polres Metro Tangerang Kota. Saat dirazia dirinya kedapatan menyimpan paket kecil sabu serta dua butir ekstasi.

Terkait permasalahan yang menjerat Sunarto, Polda Metro Jaya tegas menyebutkan rekomendasi pemecatan Sunarto.

“Yang bersangkutan terancam memang memakai sabu, rekomendasi PTDH (pemberhentian tidak dengan hormat),” ucap Awi di Mapolda Metro Jaya, Senin 10 Oktober 2016.

Awi membahas, Propam Polres Metro Jakarta Barat mendapati S tengah mengangkat sabu 0,24 gram serta dua butir ekstasi saat ditangkap. Seusai menjalani tes urine, S memang positif mengonsumsi narkoba.

“Seusai kita lakukan pemeriksaan positif, pastinya yang bersangkutan wajib mempertanggungjawabkan lakukanannya,” tegas dia.

Permasalahan ini pun berimbas pada penutupan Diskotek Mille’s oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Permasalahan yang pernah geger adalah pemerasan kepada bandar narkoba di Bandung. Momen tersebut melibatkan AKBP Pentus Napitu yang saat itu menjabat kepala unit di Sub Direktorat tindak pidana narkoba.

Tidak tanggung, dirinya meminta Rp 5 miliar supaya permasalahan yang menjerat bandar di Bandung tidak masuk ranah hukum. Tetapi, perilaku korup Pentus tercium. Proses hukum berlangsung. Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Bandung menjatuhi kurungan penjara 4 tahun 8 bulan untuk Pentus.

Menindaklanjuti itu, Mabes Polri langsung memecat Pentus yang telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan.

Anggota DPRD Pesta Sabu

Di Sumatera Barat, anak buah DPRD Padang Pariaman, Yanuar Bakrie, terekam tengah pesta sabu bersama seorang rekannya. Video rekaman itu menjadi viral di media sosial. Terang saja sebab yang di video tersebut adalah pejabat publik yang dipilih oleh masyarakat.

Meski demikian, Yanuar menyebutkan tidak tahu yang dikonsumsinya itu sabu.

“Sedikit saya luruskan, saya tidak tahu tipe barangnya. Saya telah hinggakan dengan BNN serta saya bersebelahan dengan kawan, serta kawan saya juga tidak mengenal barang itu apa. Jadi, kalau tadi dijelaskan alias dijabarkan tipe barangnya A serta B segala macamnya, saya tidak mengenal sama sekali,” kata politikus Partai Demokrat ini di Markas BNN, Jakarta Timur, Senin 10 Oktober 2016.

Iklan Mesin Fotocopy