Home / Berita Bisnis & Keuangan / Indonesia semakin Baik

Indonesia semakin Baik

Warga melintasi Monumen 12 Mei Reformasi di kawasan Universitas Trisakti, Jakarta. Foto: Antara/Galih Pradipta. Jakarta: Meski masih banyak persoalan yang membelit bangsa, hasil reformasi 1998 kian mendapatkan pengakuan. Survei teranyar Indo Barometer menunjukkan mayoritas publik menilai kondisi Indonesia setelah dua dekade reformasi semakin baik. "Sebanyak 52,7 persen publik menilai kondisi Indonesia masa reformasi lebih baik atau jauh lebih baik ketimbang 20 tahun lalu, sedangkan yang menilai sama saja, tidak ada perubahan, sebanyak 25,9 persen dan yang menilai lebih buruk/jauh lebih buruk 12,7 persen serta tidak tahu/tidak jawab 8,8 persen," ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari di Jakarta, Minggu, 20 Mei 2018. Jajak pendapat itu dilaksanakan pada 15-22 April 2018 di 34 provinsi, melibatkan 1.200 responden, dengan margin of error plus minus 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Responden ialah warga yang sudah mempunyai hak pilih, yakni minimal berusia 17 tahun atau sudah menikah. Qodari mengatakan jika dibandingkan dengan survei pada April 2011 atau saat 13 tahun reformasi, tren penilaian publik kondisi Indonesia lebih baik/jauh lebih baik meningkat 21,7 persen. Tingkat kepuasan publik terhadap jalannya demokrasi ataupun arah perkembangan negara juga bagus. Namun, kondisi ekonomi dan sosial di era Orde Baru dinilai masyarakat masih lebih baik ketimbang era setelah reformasi. Publik menilai permasalahan perekonomian dan kemudahan mencari lapangan pekerjaan sebagai permasalahan yang harus segera ditangani.  "Di bidang ekonomi, 54 persen responden menilai era Orde Baru paling baik dan untuk kondisi sosial 43 persen." Publik juga menilai pengusutan kasus-kasus HAM di era setelah reformasi belum terpenuhi. Selain itu, kesenjangan ekonomi antarkelompok masyarakat menjadi catatan tersendiri. Aktivis reformasi Budiman Sudjatmiko yang hadir dalam pemaparan hasil survei tersebut menilai pemerintah bisa mencontoh Argentina dan Afrika Selatan dalam menangani kasus HAM. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syammsudin Haris menilai demokrasi di era reformasi masih jalan di tempat. Kualitas pemimpin hasil pemilu, pilkada, dan pilpres juga belum maksimal. Catatan kritis Syamsuddin melihat pemilu masih dijadikan elite politik tak lebih untuk menghasilkan pemenang ketimbang pemimpin. Dia juga mendorong pemerintah lebih meningkatkan perbaikan ekonomi untuk meminimalkan kesenjangan. Baca: Cak Imin Nilai Agenda Reformasi Belum Berjalan Secara terpisah, Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate sepakat dengan hasil survei Indo Barometer bahwa mayoritas publik menilai Indonesia semakin baik di era reformasi. Meski begitu, tegas dia, ada sejumlah catatan kritis agar bangsa ini ke depan benar-benar menjawab tujuan reformasi sebenarnya. "Tentu saja lebih baik karena masyarakat merasa lebih bebas ketimbang di era otoritarian Orde Baru. Tetapi apakah kondisi hari ini betul-betul menjawab tujuan reformasi? Menurut saya belum sepenuhnya karena faktanya KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) masih marak, demokrasi masih sebatas prosedural, demikian juga dengan isu HAM," ucap dia. Dalam konteks itulah, kata Johnny, NasDem mendorong restorasi Indonesia untuk mengembalikan tujuan hidup berbangsa dan bernegara. Dengan begitu, negara tak terjebak dalam praktik yang salah. <iframe class="embedv" width="560" height="315" src="http://www.metrotvnews.com/embed/zNP0G2EN" allowfullscreen></iframe>
Baca Lebih Lengkap (klik): Indonesia semakin Baik
Sumber dari MetroTv News Politik

Update Proyek Tol Kunciran Serpong

Lihat juga

Indonesia Diminta Buka Mata soal Revolusi Industri 4.0

Ketua DPR Bambang Soesatyo/MI/Rommy Pujianto Jakarta: Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendukung pemerintah siap menghadapi …