Terlalu sering MultitaskingJakarta, Salah satu penurunan funsgi otak adalah Mild Cognitive Impairment (MCI). Nah, gaya hidup berpengaruh besar terhadap MCI yang dialami seseorang, bahkan apabila usia mereka masih produktif.

“Pengaruh gaya hidup terhadap MCI itu pasti. Pakai gadget kemudian melakukan hal dengan multitasking ditambah tidak ada rekreasi. Ibaratnya smartphone, banyak aplikasi dibuka dia bakal nge-hang kan? sama aja kayak otak kita,” tegas dr Sheila Agustini SpS dari RS Mayapada Lebak Bulus Jakarta Selatan.

dr Sheila mengungkapkan mekanisme pada otak saat multitasking tidak baik sebab ke depannya dapat memicu kepikunan. Untuk itu, dr Sheila menyarankan baiknya selesaikan satu pekerjaan dulu, kemudian lanjut mengerjakan hal lainnya. Tetapi, cara kerja semacam ini tentu tidak mudah dilakukan mengingat waktu yang terbatas.

“Untuk mengakalinya ya coba jangan multitasking, tapi kalau wajib multitasking harus seimbang, usahakan juga rekreasi. Nggak terus-terusan multitasking. Liburan misalnya atau melakukan aktivitas stimulasi kognitif, senam otak, brain gym. Rekreasi itu penting. dan nggak harus berangkat ke mana. Kegemarannya apa? nyulam? Do it. Itu berguna sekali,” terang dr Sheila.

Ia mengatakan, MCI tidak hanya terjadi pada orang-orang usia produktif tetapi juga pada orang lanjut usia (lansia). Pada MCI, sudah terjadi gangguan pada fungsi otak namun yang bersangkutan masih dapat beraktivitas. Gejala yang dapat timbul di antaranya sering lupa, gangguan konsentrasi, atau gangguan memusatkan perhatian.

MCI pun mempunyai grade. Untuk mengetahuinya, perlu dilakukan tes yakni tes fungsi otak atau neurobehavior examination (pemeriksaan fungsi luhur). Tes fungsi otak dikatakan dr Sheila dapat menjadi bukti yang objektif sebab hasilnya berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan dengan pengisian kuisioner oleh pasien.

Untuk penanganan fungsi otak, harus dipastikan dulu ada kelainan struktural atau tidak, misalnya tumor otak, stroke, atau kelainan struktural lain. Apabila ada, kelainan itu diatasi lebih dulu. Apabila terbukti tidak ada, bakal dilakukan terapi behavior, misalnya senam otak, melakukan aktivitas kognitif stimulasi seperti bermain puzzle, mengisi teka teki silang (TTS), melakukan hobi, serta menghindari multitasking.

“Tatalaksananya nggak mesti dengan obat. Makanya tergantung pemeriksaan butuh intervensi dengan obat nggak. Kalau dengan obat biasanya yang diberikan obat yang bermain di fungsi neurotrasnmitter untuk meningkatkan konsentrasi,” tutup dr Sheila.

Iklan Jasa Pembuatan Website