016874900_1474973794-160927_opini_pilkada_revJakarta – Pilkada DKI Jakarta pada 2017 ini sangat hebat untuk dicermati. Bahkan lebih hebat dari Pilkada DKI 2007 serta 2012. Sebab pertama, pasangan yang timbul bukan hanya dua, tetapi tiga. Yaitu, pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok – Djarot Syaiful Hidayat, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, serta pasangan Agus Harimurti – Sylviana Murni.

Kedua, dua penantang Ahok tersebut adalah dua nama yang selagi ini tak beredar dalam pemkabaran maupun survei opini publik. Nama Agus yang diusung oleh partai Demokrat, PPP, PKB, serta PAN adalah nama yang sama sekali tak beredar dalam sorotan survey maupun pemkabaran.

Sedangkan nama Anies baru timbul menjelang pendaftaran di KPU DKI Jakarta ditutup. Sehingga, kemunculannya boleh dibilang lumayan mengejutkan publik maupun lawan politiknya.

Sisi hebat lainnya adalah ketiga pasangan tersebut dibekingi oleh tokoh-tokoh kuat di republik ini.

Di belakang pasangan Ahok-Djarot ada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, di belakang Anies-Sandiaga ada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, serta pasangan Agus-Sylviana Murni ada Ketua Umum Partai Demokrat yang juga mantan Presiden dua periode Susilo Bambang Yudhoyono.

Sehingga, pertarungan pilkada pada hari ini bukan saja pertarungan antar masing-masing kandidat dengan kekuatannya masing-masing, melainkan juga pertarungan tiga figur kuat di negeri ini.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kekuatan elektoral masing-masing kandidat tersebut?

Hingga saat ini, belum ada lembaga survei yang menghadirkan bagaimana peta kekuatan serta dukungan masing-masing kandidat. Hanya yang pasti, masing-masing figur yang telah resmi mendaftar ke KPU DKI itu mempunyai kekuatan serta kelemahan yang bakal menjadi penentu kemenangan serta kekalahannya.

Ahok–Djarot, umpama, ia telah mempunyai modal dari segi popularitas serta kinerja. Mengingat pasangan ini adalah pasangan inkumben dengan tingkat popularitas di atas rata-rata, serta tingkat kepuasan kinerja yang lebih dari 50 persen. Biasanya, calon yang mempunyai tingkat kepuasan di atas 50 persen itu susah dikalahkan.

Sementara Anies, adalah figur yang telah relatif dikenal oleh masyarakat. Semacam diketahui ia adalah mantan calon presiden pada konvensi Partai Demokrat untuk pilpres 2014.

Ia juga mantan Menteri Pendidikan serta Kebudayaan selagi dua tahun pada Kabinet Kerja Jokowi-JK. Nyaris dari segi kinerjanya sebagai menteri tak mengecewakan publik. Di segi lain, Anies juga mempunyai performa intelektual serta retorika yang lumayan mumpuni untuk meyakinkan masyarakat.

Sementara Agus Harimurti, adalah sosok yang mempunyai performa dari segi akademik, karier militer yang lumayan cemerlang. Sayangnya, figur Agus belum relatif dikenal publik dari segi kiprah di tengah-tengah publik.

Tetapi demikian, seiring dengan sedang dimulainya bagianan pilkada seusai pendaftaran di KPU DKI, kami patut menantikan bagaimana kedua penantang Ahok-Djarot mengemas visi serta misinya. Begitu juga dengan taktik politik yang bakal dijalankannya semacam apa.

Kemunculan Anies sebagai penantang Ahok pasti tak dapat dianggap enteng. Sebab tidak hanya disokong oleh Partai Gerindra, ia juga diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Semacam diketahui, PKS adalah partai yang mempunyai basis kader yang lumayan kuat di DKI Jakarta.

Pada Pilkada DKI 2007, PKS sanggup tampil sendiri dengan mengusung Adang Daradjatun serta Sertai Anwar melawan pasangan Fauzi Bowo serta Prijanto, yang didukung oleh tak sedikit partai politik. Walau wajib menelan pil pahit, tetapi perolehan suara PKS lumayan siginifikan.

Ia mendapatkan suara sebesar 1.535.555 (42,13%) serta pasangan Fauzi Bowo serta Prijanto 2.109.511 (57,87%).

Begitu juga halnya dengan Agus Harimurti. Walau kemunculannya boleh dibilang sebagai calon dari langit DKI Jakarta alias sangat tiba-tiba tanpa diprediksi tak sedikit pihak sebelumnya, kehadirannya tak dapat dianggap remeh. Mengingat ia sosok dengan yang lumayan ganteng serta pintar.

Pada saat yang sama, SBY sebagai bapak dari Agus pasti bakal turun all out untuk kemenangan anaknya itu. Terlebih, SBY adalah politikus yang mempunyai taktik pencitraan yang lumayan baik, yang membawanya menjadi presiden dua periode.

Dia juga mempunyai pertemanan elite yang tak sedikit, disertai dengan logistik yang kuat, pasti bakal dikerahkannya untuk kemenangan putranya tersebut.

Ahok sebagai calon yang telah sejak awal mendeklarasikan diri sebagai cagub serta digadang-digadang sebagai calon terkuat, tak dapat lengah menghadapi dua duet penantangnya. Pekerjaan besar Ahok serta Djarot apabila ingin mempertahankan tapuk posisi Gubernur serta Wakil Gubernur DKI Jakarta, setidaknya dirinya wajib meperbuat dua hal.

Pertama, ia wajib merawat tingkat kepuasan publik atas kinerjanya yang telah di atas 50 persen. Kedua, ia wajib memastikan mesin partai politik bekerja dengan kompak.

Sebab Ahok berpasangan dengan Djarot, yang adalah kader politik PDIP, ini menjadi kelebihan tersendiri. Mengingat PDIP adalah partai paling besar di DKI Jakarta dengan perolehan suara terbesar. Yakni 1.231.843 suara. Sementara partai pengusung lainnya semacam Nasdem mempunyai 206.117 suara, Hanura (357.006), Golkar (376.221). Total perolehan suara keempat parpol itu 2.171.181 suara.

Sementara jumlah suara perpaduan Partai Gerindra serta PKS pengusung Anies–Sandiaga sebesar 1.016.958 suara. Yang terdiri dari 592.558 suara untuk Gerindra serta 424.400 suara pemilih PKS.

Adapun total jumlah suara partai pengusung Agus-Sylviana mencapai 1.246.096 suara. Yang terdiri dari Partai Demokrat (360.929 suara), PPP (452.224), PKB (260.159), serta PAN (172.784).

Di atas kertas, data tersebut menunjukkan superioritas calon petahana di banding dua penantang lainnya. Tetapi, semacam telah tak sedikit memang dalam beberapa pilkada maupun pilpres, kemenangan calon tak bergantung pada kekuatan suara partai pendukung, tetapi pada sosok figur serta kerja-kerja politik dari masing-masing partai.

Kalau saja partai pengusung tak menunjukkan kebersamaan serta kekompakan dalam menyusun serta menjalankan taktik pemenangan, bukan tak mungkin calon petahana dengan kekuatan partai paling besar, bakal ditumbangkan oleh salah satu dari dua penantang yang kekuatan partainya lebih rendah.

Sebab itu, dugaan adanya konflik internal dari partai pengusung Ahok-Djarot, semacam yang dikabarkan baru-baru ini, tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sebab faktor tersebut dapat menjadi sumbu malapetaka pilkada bagi pasangan Basuki Tjahaja Purnama serta Djarot Saiful Hidayat.

Iklan Mesin Fotocopy