Cerita Layangan Putus yang baru saja viral di media sosial Facebook dapat kita ambil hikmah dan pelajaran dalam membina hubungan keluarga antara suami dan istri.

Pelajaran Cerita Layangan Putus

Bahwa sebuah hubungan pernikahan adalah hubungan yang di dalam Al Qur’an disebut dengan Mitsaqan Ghalizha, perjanjian yang sangat kuat atau kokoh.

Yang dengan perjanjian itu Allah izinkan hubungan antara dua insan manusia yang sebelumnya haram apabila dilakukan sebelum pernikahan, namun berubah menjadi pahala yang besar apabila melakukan sesudah menikah.

Namun perjanjian yang kuat ini sering kali tidak berjalan dengan mulus bahkan cenderung mengabaikan bahwa landasan pernikahan harus lah Agama.

Islam datang dengan syariat yang begitu luar biasa untuk mengatur pernikahan. Islam pun tidak melarang untuk poligami.

Poligami adalah tingkatan tertinggi di dalam sebuah pernikahan dan tidak bisa main main dalam hal ini.

Sedikit saja salah langkah, bisa saja seorang suami menjadi orang yang dzolim dan berlaku tidak adil dalam keluarga nya, siap siap menanggung dosa nya.

Bukankah suami adalah pemimpin bagi keluarga nya?

Dimana setiap pemimpin akan di pertanggungjawaban atas apa yang dia pimpin di hadapan Allah kelak di akhirat

Bukankah suami adalah kepala keluarga dan pemimpin bagi keluarga nya?

Bukankah setiap pemimpin akan di pertanggungjawaban atas apa yang dia pimpin di hadapan Allah kelak di akhirat?

Kembali ke cerita Layangan Putus, bahwa bukan poligami yang salah, murni sebuah penghianatan dalam ikatan pernikahan.

Manusianya sendiri seharusnya berkaca pada diri sendiri sebelum bertindak demikian.

Sudahkah menjalankan sunnah untuk membahagiakan keluarga?

Sudahkah semua kebutuhan dzahir dan batin keluarga terpenuhi?

Sudahkah menjaga dan memperbaiki kualitas ibadah sunnah lainnya?

Jangan bermimpi untuk honeymoon dengan istri muda di Cappadocia naik balon udara jika itu saja belum bisa di perbaiki.

Saya jadi ingat ceramah Ustadz Khalid, bahwa sebuah keluarga ibarat sebuah perusahaan.

Bagaimana mungkin kita bisa membuat perusahaan baru, apabila perusahaan yang saat ini saat saja dari segi Manajemen, Keuangan, Sumber Daya Manusia belum kuat?

Penutup

Dan sebagai penutup tulisan ini, jadikan cerita Layangan Putus sebagai pelajaran yang sangat berharga.

Terutama untuk suami, jangan memulai sebuah pernikahan baru dengan kekhawatiran & kekecewaan istrimu yang sudah dari awal menemani, mendampingi dan memberi warna kebahagiaan dengan lahirnya buah hati dalam pernikahanmu.

Selain itu, tak perlu kita kepo mencari tahu siapa dan pemilik apa orang yang ada dalam cerita layanan putus, bahkan sampai mencibir dan menghina seseorang yang di yakini terkait cerita tersebut, apapun alasannya.

Cukup jadikan kisah tersebut sebagai ibroh yang berharga agar kedepannya bisa meningkatkan keharmonisan dalam berkeluarga, sehingga tak ada lagi hati yang terluka.

Oleh Ardian Radar