20140919_144814_perokok-smokerJakarta – Pemerintah akhirnya memutuskan menaikkan kualitas cukai rokok untuk 2017. Keputusan ini tertuang pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.010/2016. Cukai ini berlaku pada 1 Januari 2017.

“Dalam kebijakan baru ini menyatakan kenaikan tarif paling atas adalah sebesar 13,46 persen untuk tipe hasil tembakau Sigaret Putih Mesin (SPM) serta terendah adalah sebesar 0 persen untuk hasil tembakau Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan IIIB, dengan kenaikan rata-rata tertimbang sebesar 10,54 persen. Tidak hanya kenaikan tarif, juga kenaikan harga jual eceran (HJE) dengan rata-rata sebesar 12,26 persen,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani di Gedung Direktorat Jenderal Bea serta Cukai, Jakarta, Jumat (30/9/2016).

Isu kenaikan cukai rokok terbukti menjadi perbincangan. Bahkan isu itu meresahkan masyarakat.
Sri Mulyani berkata, kehadiran rokok terbukti tak dapat ditampik mempunyai akibat kesehatan. Kenaikan cukai ini juga untuk mengendalikan konsumsi serta peredaran rokok di masyarakat.

“Selain sudut kesehatan, pemerintah juga butuh memperhatikan sudut lain dari rokok, yaitu tenaga kerja, peredaran rokok ilegal, petani tembakau, serta penerimaan negara,” tutur dia.

Atas dasar beberapa sudut itu pula, pemerintah akhirnya menetapkan kualitas cukai rokok terakhir untuk 2017. Seluruh stakeholder alias pemangku kepentingan terkait juga terlibat dalam penentuan kualitas cukai rokok.

“Dari pertemuan serta diskusi yang diselenggarakan, ditarik kesimpulan bahwa kenaikan cukai adalah langkah yang wajib ditempuh dalam rangka pengendalian konsumsi serta produksi. Kenaikan tersebut wajib berimbang, jadi tak berakibat negatif kepada keterdapatan lapangan pekerjaan serta peluang nasib bagi industri kecil,” ucap dia.

Iklan Mesin Fotocopy