049384300_1475371965-pelaksanaan_amnesti_pajak_di_bali-okJakarta – Pengamat Perpajakan sekaligus Managing Partner CITASCO, Ruston Tambunan menyangsikan uang tebusan dari program pengampunan pajak (tax amnesty) mencapai Rp 165 triliun.

Alasannya, uang tebusan di periode I tax amnesty belum sanggup menembus angka Rp 100 triliun, baik itu berdasarkan Surat Setoran Pajak (SSP) maupun Surat Pernyataan Harta (SPH).

“Harapannya kemarin di periode I, uang tebusan tax amnesty dapat masuk Rp 110 triliun jadi kemungkinan sasaran Rp 165 triliun dapat tercapai. Tapi faktanya tak hingga Rp 100 triliun, jadi menurut saya sulit capai target,” ucap Ruston saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Selasa (4/10/2016).

Untuk diketahui, dari data dashboard pada laman resmi Direktorat Jenderal Pajak uang tebusan dari tax amnesty hingga awal periode II (Oktober-Desember) saja tetap sebesar Rp 89,3 triliun berdasarkan SPH. Sedangkan berdasarkan SSP jauh lebih besar Rp 97,2 triliun.

“Dari awal, ini sasaran ambisius. Tapi mudah-mudahan saja tetap ada perusahaan alias pengusaha besar yang ikut tax amnesty di periode II jadi dapat meningkatkan jumlah uang tebusan,” ucap Ruston.

Di segi lain, Ia membicarakan, perolehan sertaa repatriasi dari tax amnesty hingga kini bergerak perlahan. Saat ini, jumlahnya Rp 137 triliun. Realisasi tersebut belum sesuai dengan andalan pemerintah untuk hebat sertaa setidak sedikit-tidak sedikitnya dari luar negeri.

“Sasaran tax amnesty agar orang repatriasi, tapi di luar dugaan malah deklarasi dalam negeri yang mendominasi,” ucap dia.

Ruston berpendapat, minimnya sertaa repatriasi dari program tax amnesty di periode I menunjukkan uang yang berada di luar negeri adalah sertaa produktif, bukan sertaa nganggur.
“Orang juga mau investasi tak melulu di dalam negeri, tapi juga di luar negeri agar bertelur,” tutur dia.

Iklan Mesin Fotocopy