DiabetesJakarta – Puasa pada dasarnya membuat tubuh lebih sehat. Sayangnya ada berbagai orang dengan kondisi tertentu yang berisiko untuk berpuasa, seperti penderita diabetes misalnya.

Diabetesi bergantung pada suntikan insulin dan dianjurkan untuk tidak puasa sama sekali. Sementara diabetesi tipe 2 lebih mungkin menjalankan puasa apabila telah konsultasi dengan dokter dan tidak lepas dari obat.

Puasa Ramadan memang dapat memicu berbagai risiko kesehatan pada diabetesi tipe 2, seperti gula darah rendah, gula darah tinggi, ketoasidosis (ketidakseimbangan metabolisme yang bisa berakibat fatal), dehidrasi, dan pembekuan darah. Tidak ketinggalan bertambahnya berat badan.

Tapi pakar endokrinologi dari McDonough, Georgia, Amerika Serikat, Dr Mahmoud Ibrahim mengatakan, selama diabetesi mendapat pengetahuan yang baik untuk menjalankan puasa, gula darah dapat dijaga dengan baik pula.

“Keputusan untuk berpuasa sebenarnya merupakan interaksi antara orang itu sendiri, pemimpin agama, dan penasihat medis. Artinya semua diabetesi bisa saja berpuasa asalkan gula darah dikelola dengan baik,” ujarnya.

Dalam penelitiannya yang diterbitkan British Medical Journal, Ibrahim dan tim menemukan, diabetesi yang berpengetahuan baik untuk menjaga gula darah selama puasa lebih sehat dibandingkan yang tidak. Bahkan indeks massa tubuh mereka berkurang secara signifikan dan gula darah stabil.

Direktur Medis Al-Zahra Hospital, Dubai, Dr Mansoor berbagi tips puasa bagi diabetesi. “Diabetesi tetap harus memerhatikan makanan dan obat saat sahur dan berbuka. Sahur harus terdiri dari makanan dengan glikemiks rendah seperti nasi merah. Ketika berbuka, disarankan mengonsumsi makanan rendah lemak dan bebas gula,” ujarnya.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI RS Cipto Mangunkusumo, Prof Dr dr Pradana Soewondo juga memberi tips untuk diabetesi yang ingin puasa. Beliau menyarankan untuk selalu memeriksa gula darah, memperhatikan konsumsi obat dan insulin, olahraga, dan diet sehat dan menjalani pemeriksaan medis sebelum puasa.